Kita rehat dulu dari bahasan mekanika kuantum, kafein dan spektrofotometer UV-Vis kita. Di bab ini, penulis akan mengajak pembaca melihat sekilas keadaan dunia sains di Indonesia dari tahun 1850-1950. Cerita kita akan diawali dengan penamaan Indonesia yang tercatat oleh jurnal internasional di Singapura. Lalu kita lanjutkan sampai akhirnya berdiri cikal bakal SMK-SMAK Bogor, pada 7 September 1957. Bab ini akan ditutup pembahasan tentang Dr. Abdul Rivai, yang saat ini hanya dihargai gelar kehormatan: Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974. Cerita ini sebenarnya tidak dirancang secara sengaja untuk menghubungkan sampai berakhir di tempat penulis bekerja sekarang, ini terjadi secara natural saat penulis melakukan penelusuran sejarah dari berbagai sumber.
3.1. Lahirnya nama Indonesia
3.1.1. Jurnal Ilmiah di Singapura
Pada tahun 1847, di Singapura (yang saat itu merupakan pusat administrasi Inggris di Selat Malaka), terbit sebuah jurnal ilmiah bergengsi bernama
Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA). Jurnal ini disunting oleh seorang ahli hukum asal Skotlandia bernama
James Richardson Logan.
Jurnal ini menjadi wadah bagi para ilmuwan barat untuk meneliti tentang geografi, etnologi, dan bahasa masyarakat di kepulauan Asia Tenggara.
3.1.2. Earl vs. Logan (1850)
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, muncullah dua artikel penting yang ditulis oleh dua orang Inggris:
George Samuel Windsor Earl (seorang etnolog) dan
James Richardson Logan sendiri.
Di sinilah pencarian nama untuk menyebut wilayah kepulauan kita dimulai, karena saat itu nama resmi dari Belanda adalah
Nederlandsch-Indië (Hindia Belanda), yang dirasa terlalu "Eropa-sentris".
Earl menulis artikel berjudul
"On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations". Dia merasa kepulauan ini butuh nama khas. Earl mengajukan dua opsi nama:
- Malayunesians: Untuk rumpun masyarakat Melayu.
- Indunesians: Berasal dari kata Indus (Hindia/India) dan kata Yunani nesos (pulau-pulau).
Namun, Earl sendiri akhirnya lebih memilih nama
Malayunesians karena menurutnya nama itu lebih menghargai bahasa Melayu yang digunakan di seluruh kepulauan ini.
Di jurnal yang sama, Logan menulis artikelnya sendiri berjudul
"The Ethnology of the Indian Archipelago". Logan membaca draf tulisan Earl dan dia justru lebih terpikat dengan kata
Indunesians.
Logan melakukan sedikit modifikasi: huruf
u diganti menjadi
o. Lahirlah kata
Indonesia.
Catatan Logan dalam Jurnalnya: "I prefer the geographical term Indonesia, which is a mere shorter synonym for the Indian Archipelago or the Indian Islands." (Saya lebih memilih istilah geografis Indonesia, yang merupakan sinonim singkat untuk Kepulauan Hindia atau Kepulauan India.)
Jadi, secara teknis:
Earl yang menciptakan polanya (Indunesians), tetapi Logan yang mematangkan dan memopulerkan kata "Indonesia" dalam literatur ilmiah.
3.1.3. Dari Istilah Ilmiah ke Gerakan Politik
Setelah tahun 1850, nama Indonesia sempat "tidur" dan hanya dipakai di kalangan ilmuwan (terutama etnolog dan ahli geografi).
Nama ini baru meledak dan berubah fungsi dari istilah ilmiah menjadi identitas politik berkat peran tokoh-tokoh berikut:
- Adolf Bastian (1884): Antropolog Jerman ini menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Ostasiatischen Archipels. Buku ini membuat nama Indonesia terkenal di kalangan akademisi Eropa, termasuk mahasiswa-mahasiswa kita yang kuliah di Belanda.
- Suwardi Suryaningrat / Ki Hajar Dewantara (1913): Beliau mendirikan Indonesisch Pers-bureau (Kantor Berita Indonesia) di Belanda. Ini pertama kalinya orang pribumi menggunakan kata "Indonesia" untuk urusan publik.
- Perhimpunan Indonesia (1925): Organisasi mahasiswa kita di Belanda (awalnya bernama Indische Vereeniging) resmi mengubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia. Di sini, Indonesia resmi menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan.
- Sumpah Pemuda (1928): Puncaknya, nama Indonesia dikukuhkan sebagai nama tanah air, bangsa, dan bahasa persatuan kita.
- Tahun 1929: Setahun setelah Sumpah Pemuda, dalam kongresnya di Jakarta (Januari 1929), Partai Syarikat Islam (PSI) resmi menambahkan kata identitas nasional menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).
3.2. Cerita Eijkman dan Ayam-ayam Nobel.
3.2.1. Latar Belakang dan Awal Kedatangan ke Jawa (1883)
Christiaan Eijkman lahir di Nijkerk, Belanda, pada 11 Agustus 1856 . Karena keterbatasan biaya, ia mendaftar ke Sekolah Kedokteran Militer di Universitas Amsterdam dengan ikatan dinas untuk bertugas di tentara kolonial Hindia Belanda . Setelah meraih gelar doktor pada tahun 1883, ia langsung berangkat ke Jawa . Namun, baru dua tahun bertugas, ia terserang malaria parah pada tahun 1885 dan terpaksa dipulangkan ke Eropa . Pengalaman sakit inilah yang memicu ketertarikan seumur hidupnya pada penyakit tropis .
3.2.2. Misi Rahasia Beri-Beri dan Kegagalan Teori Bakteri (1887)
Saat memulihkan diri di Berlin, Eijkman belajar di laboratorium Robert Koch (penemu bakteri TBC) . Di sana, ia bertemu Cornelis Pekelharing dan Tiberius Winkler yang sedang bersiap memimpin ekspedisi medis ke Jawa untuk menyelidiki epidemi beri-beri . Eijkman bergabung dengan tim tersebut dan kembali ke Jawa pada tahun 1887 .
Ketika Pekelharing dan Winkler dipanggil pulang ke Belanda, Eijkman menetap dan diangkat menjadi direktur Laboratorium Medis di Batavia (1888–1896) . Pada masa itu, dunia kedokteran sangat meyakini bahwa semua penyakit bersumber dari infeksi bakteri . Eijkman pun awalnya mencoba menyuntikkan bakteri ke hewan uji, namun eksperimen tersebut gagal total karena hewan-hewan itu tidak menunjukkan gejala beri-beri .
3.2.3. Keberuntungan dari Dapur Militer: Eksperimen Ayam
Penemuan terbesar Eijkman lahir dari sebuah ketidaksengajaan yang membingungkan . Tiba-tiba, seluruh ayam di laboratoriumnya mengalami gejala kelumpuhan saraf (
polyneuritis) yang sangat mirip dengan penyakit beri-beri pada manusia . Eijkman sempat panik dan mengira laboratoriumnya telah terkontaminasi bakteri, hingga ia memindahkan ayam-ayam tersebut ke tempat baru . Namun, ayam-ayam itu tetap sakit .
Misteri ini terpecahkan berkat juru masak militer . Selama beberapa bulan, sang juru masak memberi makan ayam-ayam tersebut menggunakan beras putih giling (beras poles) yang sebenarnya dibeli untuk jatah makanan tentara . Suatu hari, juru masak baru menolak memberikan beras militer tersebut kepada ayam . Pakan ayam pun diganti menjadi beras biasa yang masih memiliki lapisan kulit ari (lapisan perak) . Keajaiban terjadi: kesehatan ayam-ayam tersebut langsung membaik secara drastis . Eijkman menyimpulkan bahwa di dalam kulit ari beras terdapat zat krusial yang mampu mencegah dan menyembuhkan beri-beri .
3.2.4. Eksperimen Massal di Penjara Jawa dan Tragedi "Disalahkan"
Untuk membuktikan teorinya pada manusia, Eijkman bekerja sama dengan Adolphe Vorderman, kepala otoritas kesehatan di Jawa . Mereka melakukan penelitian skala raksasa yang melibatkan ratusan ribu narapidana di berbagai penjara di Jawa . Hasilnya sangat mencengangkan :
- Dari 95.000 narapidana yang diberi makan nasi merah/beras kasar, hanya 9 orang yang terkena beri-beri .
- Dari 150.000 narapidana yang diberi makan nasi putih giling, sebanyak 4.200 orang menderita beri-beri .
Meski datanya sangat akurat, Eijkman justru menghadapi masa-masa sulit .
Ia menjadi target serangan keningratan ilmiah dan para atasannya . Para pejabat medis saat itu menuduh Eijkman dan Vorderman telah melakukan kesalahan fatal dalam metodologi penelitian mereka . Dampak dari penemuan hebat ini sempat diredam dan diabaikan oleh komunitas sains global, salah satunya karena laporan penelitian tersebut ditulis dalam bahasa Belanda sehingga tidak banyak dibaca oleh ilmuwan dunia .
3.2.5. Akhir Hidup dan Pengakuan Dunia (1929)
Kesehatan Eijkman yang terus memburuk membuatnya harus meninggalkan Hindia Belanda selamanya . Penelitiannya kemudian dilanjutkan oleh Gerrit Grijns . Pada tahun 1911, barulah seorang ilmuwan bernama Casimir Funk berhasil mengisolasi zat aktif dari kulit ari beras tersebut dan menciptakan istilah
"Vitamine" (Vitamin) . Struktur kimia zat tersebut akhirnya diidentifikasi sebagai
Thiamine (Vitamin B1) .
Meski sempat disalahkan dan diragukan di masa mudanya saat di Jawa, sejarah akhirnya berpihak pada Eijkman . Pada tahun 1929, setahun sebelum ia wafat di Utrecht, Christiaan Eijkman dianugerahi penghargaan tertinggi
Hadiah Nobel Kedokteran atas jasanya menemukan vitamin antineuritik yang menyelamatkan jutaan nyawa dari beri-beri .
Tuduhan "kesalahan fatal" dari para atasan dan komunitas ilmiah kala itu
bukan karena masalah etis memberikan makanan nasi putih (yang saat itu dianggap makanan mewah dan layak) , melainkan karena
keterbatasan metodologi sains mereka yang sangat bias oleh teori kuman (
Germ Theory) .
- Bias Teori Bakteri (Sains Zaman Itu)
Pada akhir abad ke-19, dunia kedokteran sedang "demam" penemuan bakteri berkat Robert Koch dan Louis Pasteur . Semua ilmuwan meyakini bahwa penyakit epidemi seperti beri-beri
pasti disebabkan oleh infeksi kuman atau racun bakteri.
Ketika Eijkman dan Vorderman menyimpulkan bahwa beri-beri disebabkan oleh
kekurangan zat akibat makan nasi putih giling, komunitas ilmiah menganggap ide itu absurd dan tidak masuk akal . Mereka menuduh metodologi Eijkman "salah" karena gagal mengisolasi bakteri penyebabnya di dalam penjara .
- Tuduhan Kontaminasi Lingkungan Penjara
Para kritikus berargumen bahwa tingginya angka beri-beri (4.200 orang) di penjara yang mengonsumsi nasi putih bukan karena faktor nasinya . Mereka menuduh ada "kesalahan metodologi" karena Eijkman tidak mengontrol kebersihan bangunan penjara . Para atasan meyakini bahwa bakteri beri-beri berkembang biak di ventilasi, lantai, atau dinding sel penjara tertentu, dan kebetulan saja penjara-penjara kotor itu menyajikan nasi putih .
- Masalah Desain Eksperimen (Variabel Pengontrol)
Secara metodologi sains ketat, eksperimen Vorderman di penjara-penjara Jawa dianggap memiliki terlalu banyak variabel yang tidak dikontrol (
confounding variables) . Setiap penjara di Jawa memiliki kondisi sanitasi, kepadatan narapidana, sumber air, dan tingkat kelembapan yang berbeda-beda . Kritikus menolak hasil tersebut karena menganggap perbedaan angka kesakitan bisa saja disebabkan oleh faktor lingkungan penjara tersebut, bukan murni karena jenis berasnya .
- Eijkman Sendiri Sempat Salah Menginterpretasikan Data
Ini poin yang paling unik. Di awal risetnya, Eijkman sendiri sebenarnya masih terpengaruh teori bakteri . Ia sempat menduga bahwa
beras putih giling mengandung racun atau bakteri berbahaya, dan kulit ari beras bertindak sebagai penawar racun (
antidote) .
Karena kesimpulan awalnya yang berliku-liku dan sempat berubah (dari mengira infeksi bakteri, lalu mengira racun beras, baru kemudian disempurnakan oleh Gerrit Grijns sebagai masalah defisiensi zat makanan), para kritikus menggunakan celah inkonsistensi ini untuk menyerang kredibilitas penelitiannya.
Jadi, 4.200 narapidana yang sakit itu tidak dianggap sebagai kelalaian etis oleh pemerintah kolonial (karena nasi putih justru dianggap makanan bagus) . Serangan kepada Eijkman murni karena
keangkuhan komunitas sains saat itu yang belum bisa menerima konsep "penyakit akibat kekurangan gizi (defisiensi)". Mereka bersikeras bahwa penyakit harus ada penyebab fisiknya, yaitu kuman .
3.2.6. Nama Beri-beri dari Srilanka
Istilah
beri-beri itu sebenarnya berasal dari
bahasa Sinhala, yaitu bahasa resmi yang digunakan oleh mayoritas penduduk di
Sri Lanka.
Dalam bahasa aslinya, kata ini diambil dari frasa yang berbunyi
beri yang artinya
"lemah". Karena masyarakat di sana terbiasa mengulang kata untuk memberikan penekanan (reduplikasi), kata itu diucapkan dua kali menjadi
"beri-beri", yang arti harfiahnya adalah
"sangat lemah" atau
"saya tidak bisa, saya tidak bisa" (menggambarkan kondisi penderita yang saking lemasnya, sampai tidak mampu melakukan aktivitas apa pun).
Mengapa Istilah dari Sri Lanka Ini Bisa Mendunia?
- Jalur Perdagangan dan Kolonialisme: Pada abad ke-17 hingga ke-19, Sri Lanka (dulu disebut Ceylon) dan Nusantara (Indonesia) sama-sama berada di bawah pengaruh kolonialisme bangsa Eropa (terutama VOC/Belanda dan Inggris). Penyakit ini banyak menyerang pelaut, tentara, dan buruh di wilayah-wilayah koloni tersebut.
- Adopsi oleh Dokter Barat: Ketika para dokter dan ilmuwan Barat (termasuk para dokter Belanda yang bertugas di Asia) menemukan penyakit dengan gejala kelumpuhan dan lemas yang khas ini, mereka mengadopsi istilah lokal yang digunakan di wilayah Samudra Hindia tersebut ke dalam literatur medis internasional.
3.3. Kolorimetri Dubosc 1930–1940: Riwayat Keringat dan Mata Pegal di Laboratorium Batavia
Sebelum kita dimanjakan oleh layar digital Spektrofotometer UV-Vis modern yang tinggal "klik" langsung keluar angka absorbansinya, laboratorium kimia di bumi Nusantara pernah melewati era yang sangat eksotis sekaligus menguji kesabaran.
Mari kita putar mesin waktu kembali ke tahun 1930-an hingga 1940-an. Saat itu, harga emas di Hindia Belanda masih berkisar 2 Gulden per gram, dan negara kita tercinta belum lahir. Di Batavia (Jakarta), tepatnya di sebuah lembaga penelitian elit bernama
Eijkman Instituut, para analis kimia sedang berjuang memecahkan misteri zat-zat mikro yang kelak kita kenal sebagai vitamin.
Tantangan terbesarnya saat itu bukan cuma keterbatasan sampel, melainkan keterbatasan instrumen. Teknologi spektrofotometri modern sekelas Beckman DU yang menggunakan prisma kuarsa dan detektor elektronik masih menjadi proyek rahasia (
top secret) pertahanan di Amerika Serikat dan belum mendarat di pelabuhan Tanjung Priok. Jadi, apa senjata utama para ilmuwan di Batavia saat itu? Jawabannya adalah sebuah alat optik visual bernama
Colorimeter van Duboscq (Kolorimeter Duboscq).
3.3.1. Memaksa yang Bening Menjadi Berwarna
Kolorimeter Duboscq adalah kakek moyang analisis kuantitatif yang murni mengandalkan mata telanjang manusia sebagai detektornya. Prinsip dasarnya menggunakan Hukum Beer, yaitu membandingkan intensitas warna antara larutan sampel dengan larutan standar di dalam sepasang silinder kaca.
Namun, di sinilah letak seni sekaligus penderitaan analis zaman dulu. Bayangkan Anda diminta mengukur kadar Vitamin B1 (Tiamin) pada sampel bekatul (
rice bran). Secara alami, Vitamin B1 itu bening dan tidak menyerap sinar tampak. Jika Anda nekat memasukkan larutan bening ini ke dalam mangkok Duboscq, Anda hanya akan melihat fatamorgana alias tidak ada warna yang bisa dibandingkan!
Para analis tidak kehilangan akal. Mereka "mengakali" keterbatasan ini dengan metode kimia derivatisasi. Larutan Vitamin B1 yang transparan tadi "dipaksa" mengalami reaksi diazotisasi (
diazo-reactie) menggunakan pereaksi asam sulfanilat, atau dioksidasi dengan metode
Thiochrome agar menghasilkan senyawa baru yang berwarna merah-jingga atau memancarkan fluoresensi biru.
Setelah warna buatan itu terbentuk, barulah mata si analis melotot di depan lensa binokular Duboscq. Knop pengatur tinggi cairan diputar perlahan sampai intensitas warna di mata kiri dan mata kanan terlihat sama persis.
3.3.2. Bekatul dan Mimpi Buruk Pengganggu Alami
Mengukur standar tentu mudah, tapi mengukur sampel riil seperti bekatul adalah cerita lain. Bekatul memiliki matriks sampel yang sangat kompleks. Di dalamnya ada pigmen alami berwarna cokelat yang ikut larut saat ekstraksi, belum lagi senyawa asam amino seperti Tirosin yang ikut-ikutan bereaksi dengan pereaksi warna.
Akibatnya, warna merah-jingga yang dihasilkan menjadi keruh atau terlalu pekat. Jika langsung diteropong, hasilnya pasti akan bias dan tidak akurat. Demi menjaga validasi metode—khususnya aspek selektivitas—ilmuwan zaman dulu harus melakukan proses preparasi yang sangat melelahkan. Mereka harus menyaring ekstrak bekatul menggunakan tanah liat khusus (
Frankonit) untuk menangkap Vitamin B1 dan membuang pigmen pengganggunya, sebelum akhirnya bisa dimasukkan ke dalam silinder Duboscq.
3.3.3. Atmosfer Riset 1940: Puncak Kejayaan di Ambang Badai Perang
Jika kita menengok ruang-ruang laboratorium di Hindia Belanda pada tahun 1940, kita akan menemukan sebuah ironi yang luar biasa. Di satu sisi, dunia riset kita saat itu adalah salah satu yang tercanggih di belahan bumi selatan. Nusantara bukan sekadar koloni perkebunan, melainkan laboratorium raksasa dunia untuk sains tropis, mulai dari penelitian kedokteran, botani, hingga teknologi tata guna gula dan karet.
Namun di sisi lain, atmosfer kerja para ilmuwan diliputi kecemasan hebat. Mei 1940, negeri induk mereka, Belanda, jatuh ke tangan Jerman. Hubungan komunikasi dan pasokan logistik ilmiah dari Eropa praktis terputus. Para peneliti di Batavia, Bogor, dan Bandung tahu bahwa cepat atau lambat, pusaran Perang Dunia II akan mendarat di depan pintu rumah mereka. Di tengah ketidakpastian geopolitik itulah, roda sains justru dipaksa berputar lebih kencang demi kemandirian komoditas dan pertahanan.
3.3.4. Perdebatan Teoretis di Kampus Ganesha Bandung
Nuansa akademis yang tidak kalah sengit terjadi di dataran tinggi Bandung, tepatnya di
Technische Hoogeschool te Bandoeng (yang kelak kita kenal sebagai Kampus Ganesha, ITB). Pada tahun 1940, laboratorium kimia di sana sudah diisi oleh para profesor dan insinyur kimia terkemuka yang mendidik kader-kader teknokrat muda.
Di laboratorium analisis Bandung inilah, konsep-konsep instrumen masa depan sering kali diperdebatkan di atas meja laboratorium. Meskipun unit fisik spektrofotometer modern seperti Beckman DU belum mendarat di pelabuhan karena blokade perang, jurnal-jurnal ilmiah Amerika yang lolos dari jalur pasifik sudah mulai dibisikkan dari mulut ke mulut oleh para peneliti.
Para dosen di Kampus Ganesha sudah mulai mengulas keterbatasan teoritis dari fotometri visual kuno. Mereka berdiskusi tentang bagaimana sebuah prisma kuarsa mampu memecah cahaya ultraviolet dan bagaimana sebuah sel fotolistrik (
photocell) bisa menggantikan peran mata manusia yang subjektif. Jadi, sebelum alatnya mewujud secara fisik di Indonesia pasca-kemerdekaan, fondasi berpikir dan "dahaga" akan teknologi spektrofotometri itu sudah tertanam kuat di benak para pemikir di Bandung dan Batavia.
3.4. Ilmuwan Bumiputera: Melawan Batas di Laboratorium Kolonial
Selama ini kita sering mendengar Christiaan Eijkman (penemu vitamin B1 di Batavia). Tapi tahukah pembaca kalau di belakang mereka ada asisten-asisten bumiputera yang andal, dan kemudian muncul ilmuwan mandiri yang luar biasa?
3.4.1. Dr. Abdul Rivai (Dokter & Jurnalis Sains Pertama Indonesia)
Pada akhir abad ke-19, tidak mudah bagi orang Indonesia untuk diakui secara ilmiah. Abdul Rivai adalah salah satu lulusan STOVIA yang berhasil mendobrak Eropa. Beliau pergi ke Belanda dan berhasil mendapatkan gelar
Doctor in de Medicijnen, Arts, en Chirurgijn (Dokter Bedah) dari Universitas Ghent, Belgia pada tahun 1908. Beliau membuktikan secara empiris bahwa otak orang bumiputera sama kapasitasnya dengan ilmuwan Eropa.
3.4.2. Prof. Dr. Sardjito (Bapak Antibiotik & Vaksin Indonesia)
Sebelum tahun 1950, Dr. Sardjito sudah aktif meneliti di
Pasteur Instituut Bandung (sekarang Bio Farma). Beliau adalah ilmuwan kimia-medis dan mikrobiologi yang sangat dihormati.
- Kontribusi Sains: Ketika perang kemerdekaan, pasokan obat terputus. Dr. Sardjito melakukan riset mandiri dan menciptakan Vaksin Sardjito untuk melawan penyakit kolera dan tifus yang menyerang para pejuang. Beliau juga meriset obat tradisional secara ilmiah. Beliau adalah contoh nyata bagaimana sains dipakai untuk bertahan hidup di masa perang.
3.4.3. Cikal Bakal Kampus Sains Terbesar (UI, ITB, IPB)
Lembaga-lembaga ini awalnya didirikan Belanda karena kebutuhan pragmatis (seperti mengatasi wabah penyakit, membangun jembatan, dan menggenjot perkebunan), tetapi insting para pemuda kita berhasil merebutnya menjadi pusat sains nasional.
- Cikal Bakal Universitas Indonesia (UI): Dari STOVIA ke GHS
- Tahun 1851: Didirikan Dokter-Djawa School di Batavia, yang awalnya hanya kursus kilat medis untuk mengatasi wabah cacar.
- Tahun 1902: Berkembang menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Di sini sains murni (kimia dasar dan biologi) mulai diajarkan secara ketat.
- Tahun 1927: Statusnya dinaikkan menjadi pendidikan tinggi penuh bernama GHS (Geneeskundige Hoogeschool). Di sinilah mahasiswa Indonesia seperti Asikin Widjajakoesoema mulai mempublikasikan jurnal medis internasional. Pasca-kemerdekaan, GHS ini dilebur menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
- Cikal Bakal ITB: THS Bandung (1920)
- Tahun 1920: Pemerintah kolonial mendirikan Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS) karena sulit mendatangkan insinyur dari Eropa akibat Perang Dunia I.
- Hubungan dengan Orang Indonesia: Kita tahu Ir. Soekarno adalah alumni teknik sipil dari sini. Tetapi di bidang sains teknik dan kimia, ada sosok Roosseno Soerjohadikoesoemo (Bapak Beton Indonesia). Beliau adalah asisten dosen di THS yang keahlian kalkulasi mekanika strukturnya diakui oleh para profesor Belanda. THS inilah yang kemudian dinasionalisasi menjadi Institut Teknologi Bandung.
- Cikal Bakal IPB: Kebun Raya & Kampus Baranangsiang
- Tahun 1916: Berdiri Middelbare Landbouwschool (MLS) atau Sekolah Menengah Pertanian di Bogor.
- Tahun 1940: Di tingkat pendidikan tinggi, dibuka Faculteit van Landbouwwetenschap (Fakultas Ilmu Pertanian) di Bogor di bawah koordinasi Universitas Batavia (UI). Kampus ini memanfaatkan fasilitas riset Lands Plantentuin (Kebun Raya Bogor) dan laboratorium kimia tanah.
- Ilmuwan Indonesia: Sosok seperti Ir. Iso Reksohadiprodjo mulai menggeser dominasi profesor Belanda dalam ilmu agro-ekonomi dan kimia pertanian. Pada tahun 1963, fakultas pertanian di Bogor ini resmi memisahkan diri dari UI menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB).
3.4.4. Mengapa Riset Negara Belanda Banyak Dilakukan di Indonesia?
Untuk beberapa bidang riset tertentu, khususnya kedokteran tropis, botani, dan kimia pertanian fasilitas penelitian di Hindia Belanda (Batavia dan Bogor) pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 adalah
salah satu yang terbaik dan paling modern di dunia, bahkan sering kali membuat ilmuwan di Eropa daratan merasa iri.
Ada alasan politis, ekonomi, dan geografis yang sangat kuat mengapa Batavia dan Bogor bisa menjelma menjadi "Megaproyek Laboratorium" dunia saat itu:
- Faktor "Uang" (Economic Driven Science)
Hindia Belanda adalah mesin uang raksasa bagi Kerajaan Belanda lewat komoditas kopi, teh, tebu, kina, tembakau, dan karet. Pemerintah kolonial sadar betul bahwa untuk menjaga kelangsungan bisnis ini, mereka butuh sains.
- Investasi Dana Melimpah: Pemerintah kolonial dan asosiasi pengusaha perkebunan swasta rela menggelontorkan dana jor-joran untuk membangun laboratorium. Mereka membeli instrumen-instrumen gelas kimia terbaik, mikroskop tercanggih buatan Carl Zeiss Jerman, hingga reagen-reagen murni langsung dari Eropa.
- Sebagai perbandingan, laboratorium universitas di Belanda saat itu sering kali harus mengirit anggaran, sementara laboratorium di Batavia dan Bogor disokong oleh profit komoditas perkebunan yang sedang jaya-jayanya.
- Beri-Beri: Krisis Militer yang Menuntut Solusi Instan
Kenapa Eijkman dikirim ke Batavia pada tahun 1886? Karena ada situasi darurat militer. Saat Perang Aceh berkecamuk, ribuan tentara KNIL (terutama tentara Belanda) lumpuh dan mati bukan karena peluru, melainkan karena wabah misterius:
Beri-Beri. Di belahan dunia lain, penyakit ini juga melumpuhkan para pelaut angkatan laut Jepang.
Karena penyakit ini mengancam eksistensi kekuasaan politik dan militer Belanda, didirikanlah
Laboratorium Patologi dan Bakteriologi di Batavia pada tahun 1888 (yang kelak dipimpin Eijkman). Laboratorium ini diberi fasilitas nomor satu dan mandat penuh:
Temukan penyebab Beri-Beri secepatnya, biaya nomor dua! Kondisi darurat dan dukungan dana tak terbatas inilah yang membuat riset berjalan sangat progresif.
- Keunggulan Geografis (The Living Laboratory)
Bagi para ilmuwan Eropa, Batavia dan Bogor adalah surga riset karena mereka bisa meneliti objeknya langsung di alam bebas, bukan sekadar melihat sampel mati yang diawetkan di dalam stoples pengiriman.
- Kasus Thiamin Jansen & Donath: Untuk mengisolasi kristal Thiamin, Jansen dan Donath membutuhkan bahan baku dedak padi (rice polishings) dalam jumlah berton-ton dan harus segar agar komponen kimianya tidak rusak selama perjalanan laut. Jika riset itu dilakukan di Amsterdam atau Utrecht, biaya logistik pengiriman berton-ton dedak dari Asia akan sangat mahal dan zat aktifnya keburu rusak di kapal. Melakukan riset langsung di Batavia artinya bahan baku melimpah, segar, dan berada tepat di depan pintu laboratorium.
3.4.5. Poros Batavia - Bogor: Pusat Sains Global
Di era 1920-an saat Jansen dan Donath bekerja, jaringan laboratorium di Hindia Belanda sudah sangat matang:
- Di Batavia: Ada Geneeskundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran) dan Laboratorium Eijkman yang fokus pada biomedis dan kimia hayati.
- Di Bogor (Buitenzorg): Ada Kebun Raya Bogor dengan ’s Lands Plantentuin dan Laboratorium voor Scheikundig Onderzoek (LSO) yang menjadi kiblat kimia analisis pertanian dan fitokimia (kimia tumbuhan) dunia. Ilmuwan dari Amerika, Jerman, dan Prancis antre membuat paspor hanya untuk magang riset di Bogor dan Batavia.
3.4.6. Laboratorium voor Scheikundig Onderzoek (LSO)
LSO lembaga riset dan pengujian kimia bersejarah yang kini dikenal sebagai
Balai Besar Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri Agro (BBSPJIA) di Bogor.
Lembaga ini didirikan pada masa kolonial Hindia Belanda dan memiliki peran krusial dalam merintis pertumbuhan agroindustri serta pengujian komoditas ekspor di Indonesia.
Sejarah dan Evolusi Nama
Lembaga riset yang berpusat di Jalan Ir. H. Juanda, Bogor ini telah mengalami beberapa kali pergantian nama seiring perubahan peta politik di Indonesia: [
1]
- 1909: Berdiri dengan nama Bureau voor Landbouw en Handel Analyse (Biro Analisis Pertanian dan Perdagangan).
- 1911 & 1918: Berganti nama menjadi Handels Laboratorium (1911), lalu berubah menjadi Analytisch Laboratorium (1918).
- 1934: Phytochemisch Laboratorium (Kebun Raya) dan balai penelitian pertanian melebur ke dalam Analytisch Laboratorium. Penggabungan ini melahirkan nama Laboratorium voor Scheikundig Onderzoek (LSO).
- 1942: Di masa pendudukan Jepang, namanya diubah menjadi Gunsaikanbu Kagaku Kenkyusyu.
- 1945: Setelah Indonesia merdeka, dinasionalisasi menjadi Balai Penyelidikan Kimia (BPK).
Fokus dan Struktur Laboratorium (Era LSO)
Ketika menggunakan nama LSO pada tahun 1934, lembaga ini memiliki 5 fokus divisi laboratorium utama:
- Laboratorium Analitika: Berfokus pada pengujian kimia umum.
- Laboratorium Kimia Tumbuh-Tumbuhan: Mengkaji fitokimia dan kandungan tanaman.
- Laboratorium Kimia Pertanian: Mengembangkan sektor agrokimia dan kesuburan tanah.
- Laboratorium Harsa: Meneliti damar dan eksudat tanaman.
- Laboratorium Minyak Atsiri: Merintis riset komoditas minyak atsiri lokal.
Peran Penting dalam Sejarah
Pada masa kejayaannya di era Hindia Belanda, LSO adalah laboratorium analisis kimia paling terkemuka. Lembaga ini ditunjuk sebagai penguji resmi kualitas kulit kina dari pabrik kina Bandung, memegang kendali atas sistem pengawasan mutu susu, pengujian air minum, serta pengawasan minuman beralkohol untuk pasar ekspor dan domestik.
Selain itu, lembaga ini juga menyelenggarakan
Analysten Cursus (sekolah analis kimia). Lembaga pendidikan inilah yang melahirkan pahlawan nasional
Margonda, yang nama aslinya adalah Margana, seorang pemuda analis kimia lulusan Balai Penyelidikan Kimia Bogor yang gugur dalam revolusi kemerdekaan.
Penamaan Jalan Margonda Raya di Kota Depok memiliki hubungan langsung dengan tokoh
Margana, yang lebih dikenal dengan nama perjuangannya,
Margonda.
Nama jalan paling terkenal di Depok tersebut sengaja diabadikan untuk menghormati jasa dan pengorbanannya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Berikut beberapa fakta sejarah yang menghubungkan tokoh Margana (Margonda) dengan Jalan Margonda Raya:
- Asal-usul Nama
- Nama Asli: Tokoh ini lahir di Bogor pada tahun 1918 dengan nama asli Margana.
- Nama Perjuangan: Ketika terjun ke dunia pergerakan dan memasuki pendidikan analis kimia di Analysten Cursus, ia lebih dikenal dengan nama Margonda.
- Pertempuran Gedoran Depok
Setelah proklamasi kemerdekaan, Margonda mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di Depok. Ia gugur dalam usia yang masih sangat muda (27 tahun) pada tanggal
16 November 1945 dalam pertempuran sengit melawan pasukan Sekutu/NICA di kawasan Kalibata, Pancoran Mas, Depok. Peristiwa pergolakan di wilayah tersebut dalam sejarah populer disebut sebagai peristiwa
Gedoran Depok.
- Pengabadian Nama Jalan
- Usulan Rekan Seperjuangan: Pada sekitar era 1970-an, rekan-rekan seperjuangan Margonda mengusulkan namanya kepada Departemen Sosial agar diabadikan menjadi nama jalan.
- Dari Jalan Setapak Jadi Jalan Utama: Sebelum bernama Jalan Margonda Raya, jalur tersebut awalnya hanya sebuah jalan setapak kecil yang dikenal dengan nama Jalan Pintu Air. Kini, jalan tersebut telah bertransformasi menjadi jalan protokol dan pusat nadi perekonomian paling sibuk di Kota Depok.
Meskipun jasadnya kini telah dipindahkan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Dreded, Kota Bogor, namanya akan selalu terpatri di jantung Kota Depok melalui Jalan Margonda Raya.
3.4.7. LSO dan Herman Busher
Nama
Herman Busher (dalam beberapa dokumen sejarah Belanda sering ditulis
H. Busser atau
Herman Busser) memang tokoh kunci yang sangat penting. Beliau bukan orang sembarangan, melainkan salah satu pimpinan teknis di era kejayaan
Laboratorium voor Scheikundig Onderzoek (LSO) Bogor (Laboratorium Penelitian Kimia Pusat Hindia Belanda).
Mari kita buka catatan sejarah kolonial untuk melihat siapa sebenarnya beliau dan bagaimana perannya hingga SMK-SMAK Bogor (yang dulu bernama
Analisten Cursus) bisa berdiri:
- Jabatan Penting di LSO Bogor (Balai Penelitian Kimia)
Sebelum mendirikan
Analisten Cursus pada tahun 1950 (yang kelak menjadi SMAK Bogor), Herman Busher adalah seorang analis kimia senior Belanda yang menjabat sebagai
Kepala Teknis / Kepala Laboratorium (Ambtelijk Hoofd / Technisi) di LSO Bogor pada dekade 1930-an hingga 1940-an.
LSO saat itu adalah lembaga penting yang menguji seluruh mutu komoditas ekspor Hindia Belanda (minyak atsiri, karet, teh, tebu). Di bawah pimpinan Dr. P. A. van der Laan dan para akademisi Belanda lainnya, Herman Busher adalah orang lapangan yang mengatur urusan operasional laboratorium sehari-hari, metode analisis klasik (volumetri, gravimetri), hingga manajemen logistik alat gelas dan reagen.
- Latar Belakang Pendirian Analisten Cursus: Krisis Tenaga Analis
Setelah Indonesia merdeka (pasca-penyerahan kedaulatan 1949), terjadi eksodus besar-besaran: para ilmuwan dan analis kimia berkebangsaan Belanda pulang ke negaranya.
LSO Bogor yang saat itu berganti nama menjadi
Balai Penyelidikan Kimia (BPK) lumpuh karena kekurangan tenaga ahli yang bisa memegang buret, melakukan titrasi, dan menganalisis sampel industri. Sementara itu, industri Indonesia yang baru merdeka sedang tumbuh dan butuh sertifikasi mutu kimia.
Melihat krisis ini, Herman Busher, yang memilih tetap tinggal di Indonesia saat masa transisi awal, mengusulkan sebuah ide taktis:
Daripada terus bergantung pada tenaga asing, mengapa kita tidak mendirikan sekolah kursus kilat untuk mendidik anak-anak lokal menjadi analis kimia yang siap pakai dalam waktu singkat?
Pada tanggal
7 September 1950, atas inisiasi dan kerja keras Herman Busher bersama tokoh-tokoh lokal, berdirilah
Analisten Cursus (Kursus Analis Kimia) dengan masa studi 2 tahun.
- Tempat belajarnya pun awalnya menumpang di gedung Balai Penyelidikan Kimia (BPK) Bogor di Jalan Perniagaan (sekarang Jalan Ir. H. Juanda).
- Herman Busher bertindak sebagai pengelola sekaligus instruktur utama yang menurunkan standar ketat laboratorium Belanda kepada murid-murid Indonesia angkatan pertama. Kurikulum yang beliau susun sangat menitikberatkan pada praktik laboratorium (keterampilan tangan), presisi angka, dan disiplin tinggi karakteristik dasar yang sampai detik ini masih menjadi "DNA" utama alumni SMAK Bogor.
3.4.8. Matriks Hubungan Lembaga dan Tokoh (1850-1950)
Untuk mempermudah pembaca, kita lihat petanya secara cepat,
| Era |
Lembaga/Institusi |
Tokoh Indonesia Terkait |
Peran/ Kontribusi Sains |
| 1900-an |
STOVIA (Batavia) |
Dr. Abdul Rivai |
Membuka jalan pengakuan akademis kedokteran bumiputera di Eropa. |
| 1920-an |
THS (Bandung) |
Prof. Roosseno |
Ahli struktur dan mekanika, mempribumikan rekayasa teknik sipil. |
| 1940-an |
Pasteur Instituut / Eijkman |
Prof. Dr. Sardjito |
Riset mikrobiologi dan pembuatan vaksin mandiri saat masa perang. |
| 1940-an |
Faculteit van Landbouwwetenschap (Bogor) |
Prof. Ir. Iso Reksohadiprodjo |
Peletak dasar ilmiah modern untuk pertanian dan ketahanan pangan nasional. |
| 1950 |
Analisten Cursus (Bogor) |
Herman Busser & Analis Angkatan I |
Pionir pendidikan vokasi analisis kimia, memasok tenaga ahli laboratorium uji. |
3.5. Kronologi Tepat Studi Dr. Abdul Rivai di Belgia
Terkait
Dr. Abdul Rivai, perjalanan akademis beliau ke Eropa penuh liku karena diskriminasi sistem kolonial, namun garis waktu studinya tercatat sangat rapi dalam sejarah pers dan kedokteran:
- Tahun 1894: Beliau lulus dari Sekolah Dokter Jawa (cikal bakal STOVIA) di Batavia.
- Tahun 1899: Berbekal tabungan pribadi (sekitar 25.000 gulden), beliau nekat berlayar ke Belanda untuk melanjutkan studi kedokteran agar ijazahnya diakui setara dengan dokter Eropa.
- Tahun 1899–1907: Di Belanda, perjalanannya tidak langsung mulus. Sembari memperjuangkan penyetaraan akademisnya, beliau kuliah di Universitas Utrecht dan lulus sebagai dokter penuh (arts) pada tahun 1907. Selama periode ini pula beliau aktif mendirikan dan menulis di majalah terkenal Bintang Hindia.
- Tahun 1907–1908 (Masa Studi di Belgia): Begitu lulus dari Utrecht, Rivai langsung tancap gas mengambil program doktoral (S3). Beliau pindah ke Universitas Ghent (Universiteit Gent), Belgia.
Puncak Prestasi: Hanya butuh waktu sekitar satu tahun bagi Abdul Rivai untuk menyelesaikan riset dan ujian umumnya. Tepat pada
23 Juli 1908, beliau resmi meraih gelar
Doktor dalam Ilmu Kedokteran, Bedah, dan Kebidanan dari Universitas Ghent, Belgia.
Catatan tanggal 23 Juli 1908 ini sangat bersejarah. Hanya berselang dua bulan setelah organisasi Boedi Oetomo berdiri di Batavia, di belahan bumi Eropa seorang putra bumiputera sudah berhasil menjebol benteng tertinggi akademis Barat.
3.5.1. Seberapa Kaya Dr. Abdul Rivai Saat Itu?
Dengan bekal tabungan pribadi sebesar
25.000 Gulden pada tahun 1899, mode “mata emasan” penulis langsung aktif:
Total Emas = 25.000 Gulden x 0,605 gram/Gulden = 15.125 gram emas
Uang tabungan Abdul Rivai setara dengan
15,1 Kilogram emas murni! Jika kita konversikan ke nilai asumsi harga emas hari ini (misalnya Rp2,9 juta juta per gram), nilai tabungan beliau setara dengan
Rp 44 miliar.
3.5.2. Dari Mana Asal Kekayaannya?
Meskipun Abdul Rivai lahir dari keluarga guru agama di Sumatra Barat (bukan bangsawan tinggi terkaya), beliau bisa mengumpulkan uang sebanyak itu karena dua hal:
- Praktik Dokter: Setelah lulus dari Sekolah Dokter Jawa tahun 1894, beliau sempat berpraktik di Medan. Sebagai salah satu dari sedikit dokter bumiputera yang andal saat itu, pendapatan beliau sangat besar.
- Kecerdasan Bisnis Jurnalistik: Beliau sangat aktif menulis di berbagai surat kabar komersial dan mengelola penerbitan. Tulisan-tulisannya laku keras di kalangan elite Hindia Belanda.
Berangkat pergi ke Eropa menggunakan dana mandiri sebesar 25.000 Gulden tanpa bergantung pada beasiswa pelit dari pemerintah kolonial membuktikan bahwa Dr. Abdul Rivai adalah sosok yang mandiri secara finansial dan merdeka secara pikiran.
3.5.3. Profil Sang Penerobos Badai
- Nama Lengkap: Dr. Abdoel Rivai
- Lahir: Palembayan, Agam, Sumatra Barat, 29 Agustus 1871
- Wafat: Bandung, Jawa Barat, 16 Oktober 1937
- Julukan Sejarah: Bapak Pers Indonesia (pionir jurnalisme modern bumiputera) dan Dokter Bumiputera Pertama yang meraih gelar Doktor di Eropa.
- Si Anak Guru Agamis yang Genius
Abdul Rivai lahir dari keluarga kelas menengah. Ayahnya adalah seorang guru agama. Sejak kecil, Rivai sudah memperlihatkan kecerdasan di atas rata-rata, terutama dalam kemampuan menyerap bahasa dan logika.
Di usia remaja, beliau berhasil menembus
Sekolah Dokter Jawa (cikal bakal STOVIA) di Batavia. Di sekolah kedokteran yang super ketat itu, Rivai tidak hanya belajar anatomi dan farmasi, tetapi juga mulai mengasah penanya. Beliau lulus pada tahun 1894 di usia 23 tahun dengan predikat luar biasa.
- Menjadi Dokter "Kelas Dua" dan Mengumpulkan Modal
Setelah lulus, Rivai ditugaskan menjadi dokter pemerintah di Medan. Di sinilah beliau membentur tembok realitas kolonial yang pahit:
- Dokter bumiputera saat itu disebut Inlandsch Arts (Dokter Pribumi) dan dianggap kelas dua dibanding dokter lulusan Belanda.
- Gajinya jauh lebih kecil, dan mereka dilarang memakai jas dokter bergaya Eropa.
Bukannya menyerah dan meratapi nasib, Rivai memutar otak. Beliau membuka praktik mandiri yang laku keras karena keandalannya. Di saat yang sama, beliau sadar bahwa "senjata" paling mematikan untuk melawan ketidakadilan adalah informasi. Beliau mulai menulis artikel-artikel tajam di berbagai surat kabar dan mengelola penerbitan. Dari sinilah pundi-pundi
25.000 Gulden berhasil beliau kumpulkan dari hasil kerja kerasnya sendiri!
Untuk memberikan visualisasi yang jelas mengenai kekuatan finansial Dr. Abdul Rivai, kita perlu membandingkan nilai
25.000 gulden (setara 15,12 kg emas murni) dengan daya beli riil terhadap barang mewah, aset properti, dan biaya hidup di Batavia maupun Amsterdam sekitar tahun 1900.
Berikut adalah tabel simulasi daya beli aset milik Dr. Abdul Rivai pada era kolonial:
| Kategori Kebutuhan/ Aset |
Estimasi Harga Riil (Sekitar Tahun 1900) |
Jumlah yang Bisa Dibeli dengan 25.000 Gulden |
Kesetaraan Nilai Ekonomi |
| Rumah Villa Elite Kolonial (Kawasan Menteng/Weltevreden, Batavia) |
ƒ3.000 – ƒ5.000 per unit |
5 hingga 8 unit Rumah Villa Besar |
Memiliki kompleks perumahan elite sendiri di jantung ibu kota kolonial. |
| Tanah Perkebunan / Lahan (Pinggiran Batavia / Jawa Barat) |
ƒ200 – ƒ500 per hektar |
50 hingga 125 Hektar Lahan |
Setara dengan kepemilikan aset tuan tanah swasta (landheer). |
| Gaji Pembantu / Buruh Domestik (Jongos / Babu) |
ƒ5 – ƒ8 per bulan |
Gaji untuk 3.125 hingga 5.000 bulan kerja |
Bisa mempekerjakan puluhan asisten rumah tangga selama seumur hidup. |
| Biaya Kuliah Kedokteran penuh di Eropa |
ƒ1.000 – ƒ1.500 per tahun |
Biaya Kuliah untuk 16 hingga 25 Tahun |
Mampu menyekolahkan diri sendiri sampai ke tingkat doktoral berkali-kali tanpa bekerja. |
| Penerbitan Surat Kabar / Majalah (Skala Nasional Lintas Benua) |
ƒ2.000 – ƒ3.000 per tahun (biaya cetak & operasional) |
Operasional Pers Mandiri selama 8 hingga 12 Tahun |
Dana ini yang membuat majalah Bintang Hindia bisa membagikan literatur sains secara gratis/murah ke pelajar bumiputera. |
Tabel ini menunjukkan bahwa Dr. Abdul Rivai memiliki kapasitas ekonomi yang setara dengan kaum elite Eropa (
gentry class). Fakta bahwa beliau memilih menghabiskan "kemewahan 15 kg emas" ini untuk mendanai koran perjuangan, membiayai riset ilmiahnya sendiri, dan hidup di pengasingan Eropa membuktikan bahwa motivasi pergerakan beliau murni didasari oleh idealisme sains dan kemerdekaan, bukan sekadar mencari popularitas atau kompensasi finansial.
- Menantang Kiblat Kedokteran Dunia
Tahun 1899, dengan uang di kantong dan harga diri di dada, Rivai memutuskan berhenti jadi pegawai kolonial. Beliau berlayar ke Belanda dengan satu misi:
Membuktikan bahwa kecerdasan orang Indonesia setara dengan orang Eropa.
Sampai di Belanda, beliau sempat diremehkan karena ijazah Indonesianya tidak diakui untuk langsung mengambil spesialisasi. Rivai tidak ambil pusing. Beliau mengambil ujian penyetaraan di
Universitas Utrecht, melibas semua materi kedokteran Barat, dan lulus sebagai dokter penuh (
arts) pada tahun 1907.
Belum puas sampai di situ, beliau langsung menyeberang ke
Universitas Ghent, Belgia untuk mengambil gelar tertinggi: Doktor Kedokteran. Hanya dalam waktu satu tahun, pada
23 Juli 1908, beliau resmi menyandang gelar
Doktor dalam Ilmu Kedokteran, Bedah, dan Kebidanan. Benteng arogansi akademis Barat runtuh di tangan pemuda Sumatra Barat ini. Catatan dokumen berupa
buku disertasi fisik (proefschrift) khusus atas nama Dr. Abdul Rivai ternyata tidak ada.
Meskipun beliau adalah orang bumiputera pertama yang sukses meraih gelar
Doctor in de Medicijnen, Chirurgie en Verloskunde (Doktor Kedokteran, Bedah, dan Kebidanan) dari Universitas Gent, Belgia, pada 23 Juli 1908, ada fakta unik di balik proses kelulusannya:
Gelar Doktor Tanpa Menulis Disertasi
Berdasarkan catatan sejarah pendidikan kolonial (salah satunya diulas oleh sejarawan I.J. Brugman), Abdul Rivai
tidak menempuh jalur promosi doktor biasa yang mewajibkan penulisan buku disertasi panjang.
Hal ini terjadi karena beberapa faktor:
- Penyetaraan Jalur Ujian: Sebagai lulusan Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) yang sudah memiliki pengalaman praktik klinis yang sangat sukses di Medan dan Belanda, Universitas Gent mengizinkan Abdul Rivai untuk langsung menempuh rangkaian ujian kualifikasi doktor kedokteran (doctorate examination). Hal ini untuk menguji seluruh kompetensi medis, bedah, dan kebidanan yang sudah ia kuasai.
- Keterbatasan Waktu: Jalur ujian langsung ini diambil karena waktu yang dimiliki Abdul Rivai sangat sempit. Ia harus membagi fokusnya sebagai jurnalis dan ingin bisa segera pulang ke tanah air untuk mengabdikan ilmunya.
- Sisi Jurnalisme dan Politik (Membangun "Bintang Hindia")
Selama kuliah di Eropa, Abdul Rivai tidak mengurung diri di laboratorium saja. Bersama seorang jurnalis Belanda, ia mendirikan majalah
Bintang Hindia (1902).
- Majalah ini sangat legendaris karena menjadi media pertama yang memajang foto-foto kemajuan sains dan teknologi dunia yang ditulis dalam bahasa Melayu, agar orang-orang di tanah air melek konsep "kemajuan" (vooruitgang).
- Melalui tulisan-tulisannya, Rivai menyadarkan kaum muda Hindia Belanda bahwa mereka harus berpendidikan tinggi jika ingin sejajar dengan bangsa penjajah.
Setelah pulang ke tanah air dengan gelar Doktornya, Rivai menjadi sosok yang sangat disegani, bahkan oleh pemerintah Belanda. Beliau kemudian aktif di dunia politik dan terpilih menjadi anggota
Volksraad (Dewan Rakyat) pada tahun 1918, mewakili kelompok nasionalis yang selalu vokal menyuarakan hak-hak rakyat. Sebagai anggota
Volksraad (Dewan Rakyat) pada tahun 1918, Dr. Abdul Rivai menggunakan hak politiknya secara agresif untuk mendesak pemerintah kolonial mendirikan perguruan tinggi kedokteran yang murni di Indonesia.
Buah dari desakan dan cetak biru yang diperjuangkannya berhasil terealisasi pada tahun 1927 dengan didirikannya
Geneeskundige Hoogeschool (GHS) di Salemba, Batavia. Institusi inilah yang menjadi pilar utama riset medis modern di Indonesia dan kini bertransformasi menjadi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).
3.5.4. Dr. Abdul Rivai Saat Ini
Dr. Abdul Rivai saat ini dikenal luas dalam sejarah sebagai salah satu
Perintis Pers Indonesia, dianugerahkan pemerintah tahun 1974. Pemikirannya sangat modern dan mendahului zamannya, menjadikannya pionir bagi generasi intelegensia bumiputra di awal abad ke-20.
Rekor Historis dan Kiprah Utama
- Pionir Jurnalisme Luar Negeri
Dr. Abdul Rivai adalah orang Indonesia pertama yang
menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu dari luar negeri (Eropa). Saat berada di Belanda, ia mendirikan dan memimpin majalah
Bintang Hindia pada tahun 1902. Lewat majalah ini, ia menyebarkan gagasan kemajuan, mengkritik kolonialisme, dan membuka mata kaum bumiputra akan pentingnya pendidikan modern.
- Pribumi Pertama Bergelar Doktor di Belgia
Ia lulus dari sekolah dokter Jawa STOVIA pada tahun 1895. Karena ingin memperdalam ilmu kedokterannya ke Eropa namun sempat dihambat oleh birokrasi kolonial, ia menyalurkan kekesalannya lewat tulisan tajam. Berkat kegigihannya, ia berhasil bertolak ke Eropa dan mencetak sejarah sebagai
pribumi pertama yang meraih gelar Doktor Ilmu Kedokteran dari Universitas Gent, Belgia pada tahun 1908.
- Mentor Para Bapak Bangsa
Selama berkelana di Eropa, Dr. Abdul Rivai bertindak sebagai sosok senior sekaligus
mentor bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang menyusul belajar ke Belanda. Tokoh-tokoh besar seperti Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, hingga Nazir Datoek Pamuntjak banyak berdiskusi dan mendapat pengaruh dari pemikiran modernnya.
- "Pisau Pena Lebih Tajam dari Pisau Bedah"
Ungkapan tersebut sering disematkan kepadanya karena meskipun ia merupakan seorang dokter ahli, pengaruh terbesarnya bagi kemerdekaan Indonesia justru lahir dari goresan penanya di media massa. Di akhir hayatnya, ia kembali ke tanah air, membuka praktik dokter di Jakarta dan Bandung, serta tetap aktif menulis hingga akhir hayatnya.
3.6 Penutup: Rekonstruksi Memori Sejarah dan Tinjauan Yuridis Kontribusi Dr. Abdul Rivai
Dari bahasan di atas, penulis merasakan ada hal yang mengganjal. Dr. Abdul RIvai adalah Pembuka Jalan Pendidikan Modern dan mentor bagi mahasiswa Indonesia yang menyusul ke Belanda. Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, hingga Nazir Datoek Pamuntjak menjadikan Dr. Abdul Rivai sebagai tempat diskusi karena pemikiran modernnya.
Secara jujur, penulis mengenal Muhammad Hatta, sebagai proklamator kemerdekaan. Tapi pembuka jalannya bahkan penulis baru ketahui dari jejaknya yang berdekatan dengan Christiaan Eijkman. Penulis menulis paragraf dengan judul di atas, untuk mengingatkan kita ucapan Founding Father negara kita yang lain, yaitu Ir. Soekarno, sebagai tokoh sains Indonesia, “Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah”.
Penelusuran historis terhadap perkembangan sains di Indonesia sering kali memperlihatkan adanya kesenjangan dalam memori kolektif bangsa. Alur penokohan figur pahlawan nasional pasca-kemerdekaan cenderung didominasi oleh para martir pertempuran fisik atau elite pemegang kuasa dalam birokrasi pemerintahan. Akibatnya, nama Dr. Abdul Rivai seolah terpinggirkan dan ruang lingkup jasanya terkunci pada predikat administratif sebagai "Perintis Pers Indonesia" berdasarkan Keputusan Presiden pada tahun 1974.
Namun, jika rekam jejak intelektualisme medis dan pergerakan politik beliau diuji secara objektif menggunakan kriteria hukum modern—yakni
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan—maka pembatasan predikat tersebut terasa kurang proporsional dibandingkan dengan luasnya spektrum perjuangan yang beliau lakukan.
Merujuk pada Pasal 26 UU No. 20/2009, negara secara eksplisit menetapkan syarat bahwa calon penerima Gelar Pahlawan Nasional haruslah sosok yang
“pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa”. Frasa
“perjuangan dalam bidang lain” dan
“perjuangan politik” inilah yang menjadi basis legitimasi yuridis mutlak bagi Abdul Rivai.
Perjuangan sains yang ia torehkan bukanlah aktivitas akademik di menara gading yang terisolasi. Ketika ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Kedokteran di Universitas Ghent, Belgia pada 23 Juli 1908, ia secara tidak langsung sedang melakukan dekolonisasi nalar. Beliau meruntuhkan dogma ilmiah Barat yang kala itu menstigmakan masyarakat bumiputera sebagai entitas yang inferior secara intelektual. Ini adalah bentuk pertahanan martabat bangsa di panggung sains internasional, sebuah fondasi harga diri yang esensial sebelum kemerdekaan fisik dapat diraih.
Lebih jauh lagi, undang-undang tersebut mengamanatkan kriteria bahwa seorang pahlawan nasional wajib
“pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara”. Abdul Rivai telah memenuhi syarat ini melampaui zamannya melalui manifestasi konsep
"Bangsawan Pikiran" (1902) yang ia semai melalui jaringan pers lintas benua. Konsep ini menawarkan paradigma baru: bahwa perjuangan tidak lagi sekadar berbasis trah darah biru atau kekuatan fisik, melainkan berbasis penguasaan sains, rasionalitas, dan ilmu pengetahuan.
Bahkan, langkah politiknya untuk bergerak di dalam koridor parlemen
Volksraad pada tahun 1918 merupakan strategi taktis untuk mulai mengisi kemandirian bangsa dari dalam sistem. Melalui mimbar tersebut, ia secara konsisten mendesak restrukturisasi anggaran pendidikan tinggi bagi bumiputera. Tekanan politik inilah yang menjadi salah satu pilar penting di balik berdirinya sekolah tinggi kedokteran
Geneeskundige Hoogeschool (GHS) pada tahun 1927 di Batavia, institusi yang kelak bertransformasi menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Oleh karena itu, menempatkan Dr. Abdul Rivai hanya dalam sekat tunggal jurnalisme adalah sebuah simplifikasi sejarah yang menyisakan ruang kosong. Keberadaan beliau yang berjalan beriringan dengan tradisi riset Christiaan Eijkman membuktikan bahwa beliau adalah salah satu arsitek utama intelektualisme Indonesia modern. Berdasarkan parameter objektif dalam UU No. 20 Tahun 2009, Dr. Abdul Rivai telah melampaui syarat administratif untuk dipandang sebagai Pahlawan Nasional. Beliau adalah pembuka gerbang peradaban ilmiah yang mendedikasikan modal finansial, ilmu kedokteran, dan seluruh hidupnya demi memastikan bahwa generasi penerus bangsa ini dapat berdiri sama tinggi di bawah payung nalar sains yang merdeka.
Mungkin benar bahwa seorang pejuang sejati tidak membutuhkan selembar surat keputusan atau plakat logam untuk membuktikan baktinya pada ibu pertiwi. Namun, bagi kita yang ditinggalkannya, memperjuangkan tempat yang layak bagi namanya di panggung sejarah adalah cara kita menghidupkan kembali kebenaran dari petuah lama:
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.”